Selasa, 09 Maret 2021

MAHESWARI

Jika hewan diciptakan tak punya pilihan, tetapi manusia punya



Jakarta, 18 Maret 2005 

Langit pagi kota Jakarta memang tak pernah ramah, seramah senyum tanggal tua Bu Likan CEO (Chief Executive Officer) warung tegal “Selera Rasa” tulus melayani, karena hutang dibawa mati jangan lupa bayar hutang sebelum mati. Begitulah kiranya tagline yang tertulis di banner depan wartegnya.

“nasi pakai telur satu, Buk.” Pesan pemuda tampan langganan Bu Likan, yang setiap makan minta tambah kuah sayur lodeh.

Tangan master Bu Likan dengan telaten mengambilkan pesanannya “kenapa pakai telur biasanya ikan?”

“biasa Buk, dompet lagi kopong, bisa kemari aja udah syukur.” Curhatan Ganda pagi ini, salah sendiri uang bulannannya habis buat main Dota2 di Rental PS Suka-suka Menik, buka suka-suka, main suka-suka, harga pun suka-suka, tergantung seberapa ganteng kamu.

“Alhamdulillah, mengerti bersyukur juga kamu.”

 Kata Bu Likan sambil menyerahkan sepiring nasi dengan satu telur ceplok dipinggir, sambal terasi dan sambal goreng tempe di sebelahnya, Oh.. jangan lupakan kuah sayur lodeh.

 “ Eh, jangan salah Bu, dulu waktu di MAN nilai Matematika saya KKM.”

 “ Nilai KKM aja bangga Da, Agama kamu gimana?”

 “Pas”

 “Pas KMM juga?”

 “Pas 6, seperti rukun Iman”

 Beberapa pelanggan Bu Likan yang lainnya cekikikan mendengar percakapan Ibu-anak itu. Meski bukan anak kandungnya, Bu Likan menyayangi Ganda melebihi Kapten Doreng kucing kesayangannya yang suka nyolong ikan asin. Wajar Bu Likan begitu sayangnya pada Ganda, karena ia dengan senang hati mempromosikan warteg Selera Rasa di akun Facebook nya yang jumlah pertemanannya nggak lebih dari 200 orang.

 “gimana pabrik?”

 “gak tahu Buk, setelah BBM naik, saya dengar bakalan ada PHK besar-besaran.”

Obrolan mereka akan menjadi berat, tampaknya. Ganda mempercepat menghabiskan sarpannya, sedangkan Bu Likan cepat-cepat menyiapkan pesanan pembelinya, untuk setelahnya dengan khidmad mendengarkan Breaking News dari Ganda.

Bu Likan duduk dibalik etalase warungnya, tangannya sibuk melipat lap putih yang berubah warna menjadi coklat karena sering bermain bersama minyak, kecap, dan kuah sayur lodeh.

“sekarang lagi panas, denger-denger seribu lebih bakal dicut.”

“bisa jadi kamu termasuk.”

Uhuk. Ganda tersedak teh manis yang sangat diidolakannya. “Ibuk do’anya nggak kira-kira, nih.”

“ya… Ibu kan cuma mengira-ira saja….” belum sempat menyelesaikan ucapannya Bu Likan sudah lebih dulu berdiri ada pembeli baru masuk “buk, nasi pake ayam satu.”

“gimana kalau jadi do’a terus di dengar Tuhan?”

“tambah apa lagi?”

“sudah, cukup” kata seseorang pembeli berseragam PNS.

Sambil menambahkan satu tempe mendoan goreng Bu Likan meneruskan kalimatnya, “Pabrik tempat kamu itu pabrik besar, nggak ada rugi mereka PHK seribu karyawannya, tinggal buka lowongan lagi mulai dari gaji yang kecil-kecil lagi, bukan begitu?”

Sambil menyelipkan uang sepuluh ribu dibawah piring Ganda menyahut “ibu pandangannya suka bener, saya berangkat dulu.” Pamit Ganda.

Mendengar kenyataan pahit itu akankah membuat Ganda kecewa? Tidak. Tidak semudah itu untuk merasa kecewa, penerimaan adalah hal paling ikhlas yang selalu dipelajarinya pahit dan manis sekalipun.

Saat sampai pintu keluar warteg Selera Rasa dirinya sempat bersimpangan dengan seorang gadis manis, tampilan necis, lipstick tipis tersenyum sekilas kearahnya.

“Pakai apa neng?”

“Pakai ayam aja Bu, sambalnya dipinggirin ya.”

“Duduk dulu neng.”

Sebelum benar-benar meninggalkan warteg Ganda sempat mendengarkan percakapan Bu Lian dan gadis itu, menyisakan pertanyaan yang hanya ingin ia tahu “kenapa semua orang lebih suka ayam?”

Sabtu, 25 Juli 2020

Peraturan

Aku keluar dengan sepotong roti lapis dengan selai kacang duduk di beranda menemani Dia memakai sepatunya di undakan anak tangga. Perhatianku tak pernah lepas dari setiap gerak geriknya.

"Ngapain lu simpul kuat banget?" penasaran saat melihatnya menarik kencang tali sepatunya.

"Lagi ngajarin kaki gue buat disiplin. " seperti itukah? bukannya itu sikap yanug muncul dari dorongan diri sendiri?

"Iyalah, ini perintah. Lu tahu gue harus berdiri lebih lama setelah ini. Harus rapi, pun saat gue harus ke kamar mandi." curhatnya panjang lebar dan membingungkan, aku seperti sedang belajar logika matematika mendengarnya.

"harus banget?" masih tidak yakin, bisa saja Dia melebihkan ceritanya agar terlihat dramatis.

"Harus. Gue kan anggota OSIS harus jadi contoh yang baik buat temen² gue, adik kelas gue. Ini peraturan, kata wajib itu lekat di badan gue."

"Lu tahu, tidur pun gue harus rapi dan bersepatu."

Gila, kata yang aku pikirkan saat mendengar hipotesis nya tentang OSIS dan Peraturannya. Apa dia nggak takut menjadi manusia yang kaku dan annoying?

"Nggak, kenapa? setiap manusia punya taste seni nya masing-masing, termasuk gue dan orang gila sekalipun."

Sumpah bener sarap ni anak, dosa gak ya gitu ke sodara sendiri?

Rotiku tinggal gigitan terakhir, dan aku tak melihat Dia mengunyah sarapannya atau meninggalkan bekasnya di meja makan.

"Lu nggak sarapan?" sebenernya ini bukan pertanyaan dalam arti sesungguhnya, lebih ke peringatan. Karena Ibu akan sangat cerewet melihat anaknya tak makan sarapannya. Beliau akan mengajak kami diskusi panjang waktu mengenai hal ini, melebihi durasi sambutan kepala sekolah. Imbasnya kami bisa saja terlambat masuk kelas.

Dia masih diam tak menjawab, atau menampilkan reaksi lainnya. "Gue bilangin Ibu."

Menurut Ibu, sarapan itu penting walaupun hanya segelas air putih dan sepotong biskuit kelapa. Karena harimu tergantung apa yang kamu makan pagi itu.

"Gue udah negosiasi ke Ibu, nih hasilnya." katanya sambil mengangkat kotak bekal kesayangan Ibu, Tupperware. Atau tepatnya Lovelyware.

"Mending sekarang lu nyapu yang bersih, biar calon suami lu gak berewokan." Apa hubungannya coba? "Kata si Mbah sih gitu." tambahnya.

"Gue berangkat deh, kebanyakan diskusi sama lu pagi ini bikin otak gue semakin noob." katanya lagi.

Anjay, kurang ajar banget nih bocah.

Tapi bener kata Dia, dipikir-pikir kita ini hidup dalam peraturan, bedanya ada yang mengikat dan ada yang membebaskan. Seperti bangun tidur, makan, minum, belajar, olah raga, membaca, sampai buang hajat. Semua itu kita yang mengaturnya tanpa sadar, kadang dilebihkan kadang dikurangi.

Dia mulai membiasakan dirinya dalam aturan dan tetap dengan batas-batasnya. Karena menurutnya hidup enak itu hidup yang teratur.

"sekarang lu pikir, burung yang lu lihat bebas itu sudahkah mereka merdeka? Nggak ada yang menjamin. Bisa aja di tengah jalan saat terbang ke barat, dia bertemu dengan elang yang sedang kelaparan."

Jadi, belum tentu saat kita memilih untuk hidup bebas kita akan aman dan damai. Dan coba cari tahu lagi, apa sebenarnya yang dicari dalam hidup itu?

Selasa, 30 Juni 2020

Sehari dirilis MV Stay Gold BTS Trending 2 di You Tube, berikut beberapa fakta menariknya.

Siapa sih yang tak kenal BTS, atau Bangtan Sonyeondan, boy grup anak dari Big Hit entertainment ini baru saja merilis Music Video untuk album Jepang keempatnya yang berjudul Map of the Soul: 7 The Journy. Hal ini disambut baik oleh ARMY atau sebutan untuk penggemar mereka, dirilis tanggal 26 Juni 2020 MV BTS Stay Gold ini sudah menduduki posisi ke dua trending di You Tube. Rilisnya MV ini pastinya juga mengobati kerinduan ARMY ke mereka ya, hayo yang ARMY sudah nonton belum?

Tidak hanya itu beberapa hal yang berkaitan dengan BTS ini memang selalu menjadi trending topic ya, dan berikut beberapa fakta menarik dari lagu Stay Gold BTS :

1. Lagu Stay Gold Trending 2 di You Tube. 
Setelah perilisannya tanggal 26 Juni 2020 sampai keesokan harinya MV Stay Gold BTS sudah ditonton 30 jt views dengan lebih dari 5 jt likes, berada diurutan kedua setelah Blackpink dengan lagunya yang berjudul How You Like That

2. Puncaki iTunes di 82 negara berbagai dunia.

Lagu berbahasa Jepang ini sendiri sudah dirilis pada tanggal 19/6, dan telah menempati puncak iTunes keesokan harinya di 82 negara di dunia, diantaranya Amerika Serikat, Britania Raya, Brazil, Prancis, Jepang, hingga India.

3. Salah satu Single dari album Jepang Map of the Soul: 7—The Journy.
BTS sedang mempersiapkan album Jepang keempatnya yang berjudul Map of the Soul: 7—The Journy yang resmi dirilis tanggal 15 Juli mendatang. Lagu Stay Gold ini merupakan salah satu single bagian dari track album tersebut.

4. OST Drama Jepang Spiral Labyrinth- DNA Forensic Investigation.

Dikonfirmasi langsung oleh BTS, lagu yang bertema ceria tersebut didapuk menjadi OST drama Jepang Spiral Labyrinth- DNA Forensic investigation yang diangkat dari Manga berjudul Rasen no Meyikya. Tanaka Kai yang menjadi salah satu aktor dalam drama tersebut juga memuji lagu yang menurutnya cukup keren.

"Kami gembira bisa berpartisipasi untuk lagu tema drama Spiral Labyrinth." Kata BTS dikutip dari The Korean Herald

5. Lirik yang bermakna postif.

Sudah bukan rahasia lagi, setiap lagu yang dinyanyikan oleh BTS memiliki arti yang sangat indah, memotivasi, dan penuh kasih. Dalam lagu ini berisi pesan tentang seseorang yang harus tetap optimis, berani, dan percaya diri menghadapi sesuatu seberat apapun masalahnya.

"Tetap emas, emas selamanya abadi, jangan takut" Salah satu arti lirik lagu Stay gold yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

So, buat kamu yang merasa insecure, putus asa udah ya kalian nggak sendiri kok yakin deh diluar sana ada seseorang yang mau menerima kamu apa adanya. Coba deh dengarin lagu-lagunya BTS siapa tahu bisa buat kamu semangat lagi.

6. Theory dari Stay Gold.
Picture: on Twitter

Ini nih yang sering buat ARMY penasaran sampai gemes sendiri untuk mecahin teori-teori yang ada di setiap MV Japan ver nya BTS. Beberapa dari mereka beranggapan ini ada hubungan dengan MV Spring Day, dari unggahan Jimin di akun twitter official mereka @BTS_twt, yaitu foto sepatu dengan gambar bunga sakura yang sedang mekar. Di MV ini ini juga menjelaskan bahwa mereka menemukan cahaya emas, setelah melewati musim dingin yang digambarkan melalui beberapa scane diawal dengan latar belakang gelap.

Seru juga ya mecahin teori-teori dari MV nya BTS, lewat lagu-lagunya mereka memberikan pesan semangat. Seperti di MV Stay Gold ini, kalian harus tetap stay gold apapun kondisinya, dan percaya suatu saat cahaya emas akan menghampiri kalian, gimana setuju nggak? 

Rabu, 24 Juni 2020

TUKANG ARANG

Dia membangun apa yang menjadi mimpinya
Memupuk daun hijau dengan akidah dan fiqih
Tidak lupa memberinya makan

Tukang arang
Banting tulang peras pikiran
Memastikan periuk penuh dengan asupan
Berangkat pagi pulang malam semakin legam tulang arangnya

Ular mendesisi tikus mendecit
Tetangga bergosip ekonomi menghimpit
Gaji sabtu sore dibagi rata minggu pagi
PLN beri tagihan PDAM minta bagian

Tukang arang
Semakin jauh berjalan
Untuk anak isteri makan
Menawarkan keahlian menjadi karya bangunan
Dengan  pengetahuan hitungan berbekal unting-unting

Tukang arang
Mulai membangun mimpi orang-orang
Teriakan teriakan itu membesarkan hatinya
"Itu Bapakku, si ahli bangunan."

Senin, 15 Juni 2020

Surat Kabar Lama

Tidak ada niatan menyusun kepingan pazel yang sudah tak utuh itu lagi. Semua sudah pecah, mereka membubarkan diri dari rangkaiannya, karena semesta tidak pernah berpihak dengnya. Kepingnya seperti debu di tus-tus piano tua, jari itu menari diatasnya diiringi melody kesedihan, siapa yang mendengarnya ingin segera berlari dan menutup pintu rapat-rapat, bersembunyi dibalik bantal untuk menangis sekerasnya.

*
Gadis itu mengakhiri permainannya, lagu terakir untuk malam ini. Exsport Little Glam Watch EE Blue yang melingkar ditanganya menunjukan angka sepuluh malam. Turun dari panggung disambut pelukan hangat dari sang Bunda.

"Harus terbiasa ya, kamu bisa kok sayang." 
Kalimat sang ibu yang melihat tangan putrinya bergetar saat menyambutnya. 

"Sudah malam, yuk pulang. Ayah sudah menunggu." Setelah beramah tamah dengan tuan rumah, segera mereka menuju ke parkiran, menghampiri sang Ayah.

"Lagunya bagus, Ayah senang mendengarnya." Komentar Ayah untuk putrinya.
Ayah pikir kata senang lebih tepat diucapkan untuk menggantikan terharu, pada lagu terakhirnya, karena dirinya tidak suka dikasihani.

Rimba mengucapkan terima kasih atas pujian Ayah, meski separuh sisinya merasa sedih, Rimba tetap merasa senang, dengan ini dirinya tidak sendiri, ada Ayah dan Bunda yang tidak pernah lelah mendukungnya.

*
June, 12, 2009.
Tidak seperti biasanya, langit tampak begitu cerah dengan nuansanya siap menyambut musim panas. Diminggu yang cerah, dalam beningnya air kolam, tampak awan yang menggantung disana sedang bercermin, memperbaiki penampilannya, adakah yang dirasa kurang atau berlebihan, ia tak ingin terlihat mengecewakan. Beberapa kali angin membantunya, sedikit memolesnya.

"Lihat kak, yang disana itu." Kata gadis manis pada teman yang duduk disampingnya, sedang menikmati lelahnya, setelah bersepeda.

"Gak ada yang bagus?" Tanyanya mengikuti arah pandang gadis manis pada langit, ada beberapa lembar awan tak berbentuk seperti serat arumanis.

"Iya, haha." Tawa gadis manis sebab rencana jailnya berhasil. Pikirannya mengatakan pemuda disampingnya ini tidak akan tinggal diam, gadis manis itu sudah megganggunya ditengah rasa lelahnya. Tanpa menunggu aba-aba dia segera berlari untuk menghindari hukumannya.

"Awas ya kamu. " Ancamnya pada gadis manis yang terdengar seperti candaan. 

Mereka berlari memutari kolam itu, berputar-putar ditengah padang rumput hijau, langkahnya digiring tawa.

Gadis manis itu mengangkat tangan tanda menyerah, nafasnya tak cukup panjang untuk berlari lagi. Sama halnya dengan pemuda itu, ia juga mengatur nafasnya yang semakin pendek.

Ditengah aktivitasnya, pemuda itu menyadari sekelilingnya begitu indah, terlukis hijau dan biru langit tangan Tuhan memeluk mereka. Tak ingin melewatkan ini, pemuda itu mengeluarkan ponsel pintarnya.

"Mau apa kak?" Tanya gadis manis.

"Buat kenangan, bagus nih, yuk foto." Ajaknya mengarahkan kamera kedepan wajah mereka, bergaya senyum tulus.

Mendengar kata kenangan membuat gadis manis terdiam seketika. Tidak ingin jika ini sebatas kenangan, terlalu indah. Karena hobi pemuda itu fotografi sejenak dilupakannya gadis manis itu, dirinya asyik mengambil objec yang dirasa cantik, temasuk manusia disampingnya itu.

Rimba tersenyum melihat unggahan foto mereka di laman sosial media pemuda itu dan beberapa karya foto lainnya. Kenangan itu, perasaan itu, sudah menjadi keping-keping pecahan seburam kaca. 
Semuanya nyata, pertanyaannya terjawab kini, kenangan itu yang menariknya kembali, perlahan butir bening menetes membasahi padang safana yang merah merona.

*
Dipermainkan karma, laku apa yang pernah dilakukanya dimasa lalu? Jelaskan pada angin yang berbisik lewat sela tirai jendela itu. Rimba beberapa kali menepuk dadanya mengusir sesak yang semakin memeluk hatinya, ingin sekali berdamai dengan dirinya sendiri.

Ditempat tergelap disisi ruangan ini semuanya tersimpan rapi, dalam kotak yang sekali saja dia melangkah akan kembali menariknya pada perasaan terlalu percaya diri pada kesalahan.

"Kakak pakai lagi? Bagaimana bisa?" Tanyanya penasaran melihat garis hitam disekeliling mata itu, yang membuatnya terperosok dalam sekali tatap.

Yang ditanyai hanya diam, memberikan dua kemungkinan, yang menjadikannya harus menjawab pertanyaannya sendiri.

"Mengeluh?" Tanya pemuda itu saat Rimba melepaskan nafasnya berat. Rimba menggeleng dan tersenyum manis, hanya sekali.

"Apa kakak, nggak mau memyerah?" Tanyanya hati-hati. 

Menyerah sekarang? Menurut Rimba itu lebih baik dilakukan, sebelum semakin larut, sebelum semakin berlanjut. Rimba tidak memberi pilihan, tidak juga memberi saran, itu keputusan yang menyamar dalam perintah.

Lelah, yang memgambarkan Rimba dalam raut kanvasnya. Yang diperjuangkan sedang memperjuangkan yang lainnya. Haruskah dia mundur setelah sejauh ini, bagaimana jika waktu menghianatinya, siapkah dirinya dengan kekecewaan?

"Terlalu rumit, aku lepas kontrol. Maaf."

Remasan pada jarinya semakin kuat, mendengar kalimat pemuda itu.

"Sebentar lagi magrib, aku antar."

Ada sedikit was-was, pemuda itu tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana jika mereka papasan dengan malaikat maut, saat mereka sedang luput. Entahlah, Rimba sudah percaya pada Tuhan, termasuk kembalinya pemuda di depannya ini.

Sangat, Rimba sangat menyayanginya. Pemuda yang lebih tua satu tahun darinya, juga kakak kelas disekolahnya. Yang membuatnya terperosok sekaligus melayang dari tatapanya yang hitam, dalam, dan memenangkan.

Setiap malam dirinya tak lupa untuk meminta pada Tuhan, agar menyelamatkan mereka dari api neraka, untuk lebih dulu menyelamatkan "kakaknya" ini dari lingkaran setan, barang haram yang dapat menghancurkan mereka dan tak butuh semalam.

Lingkaran masalah yang rekat dengan remaja, salah pergaulan, bullying, insecure, menjadikan pemuda tampan nan menawan dengan latar belakang keluarga terpandang, melarikan diri pada barang haram narkoba.

Sudah satu tahun terakhir dirinya aktif mengonsumsi ekstasi, sebelum bertemu dengan Rimba yang perlahan membawanya kembali. Support system terbaik selain kedua orang tuanya. Sukarela menemaninya rehabilitasi setiap minggu.

Dan seperti pernyataannya, dirinya kembali goyah, tepat dua minggu yang lalu. Rimba pun tak tahu apa sebabnya, merasa telah kecolongan dengan ini. Begitulah kiranya yang pertama sulit dilupakan, tapi yang kedua? Pasti lebih sulit kembali. Rimba bertekad ini tak boleh sia-sia.

"Besok kita mulai lagi ya kak. Aku temenin"
Pemuda itu tersenyum mengangguk, merasa bersyukur masih ada yang perhatian dengannya.

"Aku percaya, lebih. Karena aku yakin kamu, natural. Hati-hati, jangan menyimpan terlalu dalam seseorang dalam hatimu. Kasihan dia, nanti tersesat. Aku pulang ya."
Setelah mendapat persetujuan dari gadis manis, pemuda itu berlalu bersama bayangannya.

*
July, 06, 2009.
Rimba menunggu hari ini sejak semalam, sampai bangun lebih awal untuk membayar janji ke pemuda itu. Lima belas menit lalu dirinya sudah mengirim pesan, tapi belum dibalas juga, hampir bosan Rimba menunggu kali ini, karena sebelumnya tidak pernah.

Ayah datang dari beranda rumah, mengangsurkan radar kota pagi ini. Rimba menerimanya dan tidak percaya membaca headline yang tertulis. Dia semakin menegaskan penglihatannya ke bagian body, untuk memastikan kebenarannya.

Pulang, pemuda itu benar-benar pulang ke keabadian. Rimba tak tahu apa yang harus dilakukannya, hanya bisa menangis tersedu sedan. Pemuda itu, yang hari ini memiliki janji denganya, malah pergi sendiri, langsung ke Tuhanya.

Andai, andai pemuda itu tidak mengantarkanya pulang, mungkin ini tidak akan terjadi. Atau andai saja Rimba bisa sedikit menahannya, mungkin pemuda itu tidak akan berpapasan dengan malaikat maut yang bersembunyi pada truk bermuatan barang itu, sepagi ini.

Rimba merasa bersalah, rimba menyalahkan dirinya sendiri, yang jelas sudah menjadi takdir. Kekasihnya pergi tanpa dirinya. Ini bukan kepalsuan, pertemuanya dengan pemuda itu juga bukan kesalahan, semuanya sudah direncanakan, termasuk kepergianya yang tiba-tiba.

Yang tersisa hanya kenangan, manis atau pahit keduanya sama-sama menyakitkan.

Butuh waktu lama Rimba kembali menjadi dirinya sendiri, sedikit saja memorinya tersentil tentang pemuda itu, dia akan kembali berwisata ke masa lalunya, yang seharusnya dilupakan.

Beberapa lembar kertas yang tintanya mulai luntur, kembali dibacanya, surat kabar lama dari kekasihnya. Juga surat kabar lama kepergian kekasihnya. Semuanya tersimpan rapi sesuai urutanya. Dia harus sadar tidak ada yang sia-sia dari semua ini, sudah menjadi ketetapan. Apapun yang akan terjadi esok, akan terjadi. Hari ini harus dilalui, kemarin sudah dilewati.

Luka sekecil apapun itu sakit, menyembuhkanya butuh waktu. Memaafkan itu sulit, tapi berdaimai itu lebih sulit. Dia harus kembali mencintai dirinya sendiri. Bagaimanapun hasilnya, mencoba itu harus.

Selasa, 09 Juni 2020

Endi.

Angin musim semi menjemput kenangan dari rasa yang pernah ada, sebelum perpisahan lima tahun lalu. Bersama lagu Breathe yang dinyanyikan oleh Lee Hi, gadis itu mengingat pada langit yang sedang biru-birunya, tajam terasa menyakitkan.

Tak ada kata baik dari perpisahan, seperti berpisahnya mereka karena sebelumnya juga tidak baik. Bertemupun tidak baik, saat gadis itu melihatnya di persimpangan lampu merah. Langit sore yang cerah, di depan pasar yang mulai membubarkan diri, tukang becak berjajar rapi. Berharap satu, dua dari mereka membutuhkan jasanya. 

Dijalan yang ramai karena sekolah sudah pulang, gadis itu menangkap sorot mata yang pernah dikenalnya, tepat di belakang rambu marka jalan. Langkahnya lurus sampai ke sebrang, tatapanya berlari ke belakang.

Sampai, lalu lintas kembali hijau. Motor matic itu bersama pengendaranya berlalu. Meninggalkan luka pada gadis mata kopi itu. Kali pertama menatapnya lagi, dan terakhir untuk setelahnya tidak bertemu. 

Gadis mata kopi yang terlalu menolak kehadirannya. Saat duduk dibangku menengah atas, kedua pemuda itu dipersatukan oleh Bahasa Indonesia. Tepatnya tugas bahasa Indonesia membedah novel, karena bukan pilihannya, gadis mata kopi mendatangi gurunya. Maksud bertanya mereka disatu kelompkan.

"Ibu minta tolong kamu bimbing dia untuk paham ya. Kamu bisa kan." Begitulah jawaban yang didapat gadis mata kopi.

Karena sejak pertama gadis mata kopi tahu laki-laki jakung itu suka melanggar, dan perusuh. Laki-laki jakung dan genk bad boynya terkenal seantero sekolah dari semut merah yang berbaris di dinding sampai mbak baju putih rambut panjang di belakang Lab Ipa.

Gadis mata kopi tak boleh egois, apapun ini demi nilainya dan nilai teman sekelompoknya termasuk laki-laki jakung. Untungnya tak begitu sulit berkomunikasi dengan laki-laki jakung, beberapa kali juga ia ikut menyumbangkan pemikirannya saat diskusi. 

Susahnya Ia belum bisa menjadi siswa yang rajin, gadis mata kopi harus lebih bersabar untuk, mengingatkanya, menyemangatinya, dan usaha yang dapat dilakukanya agar nilainya lekas cair.

Daun musin semi gugur tersapu angin, dijalan beraspal dipinggir bahu jalan. Gadis mata kopi melihat arloji hitam melingkar ditangannya, pada waktu yang mengikat keduanya menjadikanya dekat. Sebelumnya membenci, hingga terbiasa berteman, sekarang keduanya berada dalam keadaan nyaman. 

Watak itu mutlak, tak banyak yang berubah dari laki-laki jakung, sedikit lebih bertanggung jawab ke dirinya sendiri, dan tugasnya, menambah satu nilai kelakuan baik. Tak ada salahnya mencoba menjadi siswa yang teladan, dan tidak selamanya peraturan diciptakan untuk dilanggar.

Bad boy itu menarik, gadis mata kopi bukanlah salah satu penggemar bad boy, sebisa mungkin menjaga jarak, untuk terhindar dari masalah. Tapi ayah dan ibu, juga guru mengajarkannya untuk tidak pilih-pilih teman.

"Anggap saja kamu sedang membantunya menjadi baik" Komentar dari ibunya.

"Ingat, jangan memaksakan perubahan" Pesannya lagi pada putrinya.

Pun dengan kenyamanan, dia bisa memlih dengan siapa dirinya berteman, tapi nyaman tidak bisa dipaksakan, itu terjadi begitu saja, senatural mungkin.

Perhatian kecil dari gadis mata kopi yang menurutnya berdasarkan tugas disambut baik oleh laki-laki jakung, tanpa alasan. Hal yang berulang dilakukan akan menjadi kebiasaan. Seperti tegur sapa, bercanda dikelas, diskusi, bercerita panjang kata, menanyakan kabar, mengingatkan makan, hingga ke bagian paling kecil, mengucapkan selamat malam.

Sesaat mereka melupakan kata asing, ketika bersatu menjadi bising. Mereka berteman, diantara keempat yang lainnya, keduanya tidak murni hanya berteman, dari lempar sahut perhatian keduanya saling meletakan perasaan.

Awalnya hanya gadis mata kopi yang merasakan karena naluri alamiahnya bawa perasaan. Setelahnya laki-laki jakung juga merasakannya, mudah terbaca oleh yang lainnya. Dan mereka masih diam tanpa pengungkapan. 

Yang pertama merasa bukanlah yang tersadar lebih dulu. Laki-laki jakungnya menyukai gadis lain. Cewek berponi dari kelas sebelah, mereka sering bertukar pesan, beberapa kali makan bakso bareng di belakang gadis mata kopi. Itu semua dilakukan diam-diam, dan rapi.

Dan satu waktu bom itu meledak dan tidak ada yang tahu siapa yang menyulutnya. Hari dimana gadis mata kopi menemui kenyataannya. Dengan senyum cerah gadis mata kopi pergi ke sekolah, disambutlah dia oleh teman perempuannya yang siap bercerita, mengabarkan bahwa semalam ada seorang laki-laki yang menyatakan perasaan kepadanya, gadis mata kopi ikut bahagia mendengarnya.

"Tapi aku tak langsung menjawab, aku bilang hari ini akan jawab. "

"Mengapa begitu? Memangnya siapa dia yang beruntung itu? " Tanya gadis mata kopi dalam rasa penasarannya.

Perempuan itu tersenyum mengangkat bahu dan membisikkan kata, ah bukan kata, itu nama. Nama seseorang yang sangat dikenalnya. Gadis mata kopi tak salah dengar, pengucapan perempuan itu bernar, susunan hurufnya benar, dan itu dibisikkan. Nama laki-laki jakung yang disukainya.

Bagai disambar petir di pagi hari, saat matahari saja masih cerah-cerahnya dilangit timur. Terkejut bukan main, gadis mata kopi sudah terlanjur bahagia mendengar kabar baik yang berarti kabar buruk untuk hatinya. Amarah ini harus ditahan, pikir gadis mata kopi.

Masih ada lagi, Guru biologi yang sedang mengajar siang itu, menangkap laki-laki jakung sedang memutar-mutar dua batang coklat.

"Untuk siapa ini? Untuk pacar kamu?" Tanya guru Biologi. 

"Bukan Bu, i—itu untuk kakak saya." Jawabnya tampak bingung mencari alasan.

"Bohong Bu, itu buat Ningsih. Anak kelas sebelah." Kata Adimas teman nongkrong laki-laki jakung.

Mendengar itu satu kelas riuh menyoraki laki-laki jakung, yang menjadi tokoh utama di kelas siang itu. Sebenarnya berapa banyak siswi yang dekat dengannya, mengapa disetiap sudut sekolah ada?

Saat itu pulang sekolah, gadis mata kopi ingin mebuktikan ucapan Adimas. Dirinya pulang paling akhir, mendapati laki-laki jakung mengejar Ningsih di parkiran, dan setelahnya Adimas benar. Dari senyumnya yang dipaksakan, tak ada yang tahu hatinya merah darah, tanda sedang terluka.

Dari kepingan kenyataan itu gadis mata kopi menyimpulkan, laki-laki jakung memang tak menyukainya. Kesadarannya terlambat, dia kalah cepat, biasanya selalu mempersiapkan diri seperti sebelum ujian akhir semester. Tapi ini berbeda, dia salah letak, dia kalah telak dipermainkan oleh perasaannya sendiri.

Perlahan gadis mata kopi menjauh, memberi ruang diantara pertemanan mereka. Adimas yang menyadari itu mencoba bertanya halus padanya.

"Ngapain lo ngejauh dari kita? Apa karena dia? "

Gadis mata kopi seketika menjadi bisu. Tidak ada kata yang keluar dan tidak dapat bicara.

"Lo gak usah sembunyi dari gue, gue tahu kok. Lo suka kan sama dia."

Diam.

"Ini jujur lo harus tahu." Kata Adimas yang membuatnya menahan napas.

"Dia suka sama lo."

Gadis mata kopi melepaskan napas berat, ada kelegaan setelah mendengarnya, tapi semuanya sudah terlambat. Gadis mata kopi tak mendengarnya langsung dari laki-laki jakung, bisa saja itu hanya hiburan. Gadis mata kopi meninggalkan Adimas dengan kalimat yang ditelan udara.

"Dia selalu cerita tentang lo, saat bareng gue. Coba lo denger dulu. "

Sudah cukup, tak ada yang perlu didengar lagi, semuanya maya, seperti bayangan cermin cembung. Kesadarannya membuatnya menyalahkan diri sendiri.
Keputusannya membuat langkah semakin jauh termasuk menarik semua perhatiannya ke laki-laki jakung, kembali menjadi dua yang acuh dan asing.

Sampai musim dingin datang saat langit abu-abu menggantung, untuk kemudian rintik saling bersambut, mereka tetap asing. Tidak ada yang ingin menjelaskan juga mendengarkan.

Sebenarnya tak benar ada perpisahan diantara mereka karena sejatinya tak pernah dipertemukan, kemarin itu hanya ketidakesengajaan. 

Kebenaranya masih mereka simpan sendiri, gadis mata kopi yang terus bertanya dimana seharusnya ia letakan perasaannya. Sampai laki-laki jakung mau menjelaskan kepalsuan tentang perasaan ke orang lain, karena rasa tidak pantas.

Dimana, dimana tempat yang pas untuk kita dan rasa ini? —Gadis mata kopi.

Minggu, 08 Desember 2019

Perjalanan ku Dengan Mandala

Hari ini tidak seperti biasanya, aku bangun lebih awal karena harus ke Surabaya. Jam empat lebih sedikit perjalanan kami mulai, aku bersama ketiga temanku naik bus Mandala, yang pas banget saat itu lewat.

Dinda sudah langganan dengan sang supir dan kondektur, merkipun demikian harga tiket tetap sama. Karena mereka juga perlu untuk makan.

Masih terlalu pagi, jalan kota juga masih sepi. Di belakang kami bus Sugeng Rahayu, jurusan Jogya-Surabaya menantang untuk balapan.

Penumpang juga masih sedikit, itu membuat sang sopir menerima tawaran tersebut. Ya, meskipun tanpa ada pernyataannya yang tersurat, tetapi gelagat dari sang sopir Sugeng Rahayu, menunjukkan dimulainnya pertandingan.

Lima penumpang yang semuanya cewek, aku dan ketiga temanku, juga seorang ibu-ibu yang duduk di belakang ku terus merapal do'a dan kalimat tauhid.

Beberapa kali aku dan Dinda tertawa melihat aksi sang sopir yang terus berusaha memenangkan pertandingan. Bus kami selalu ambil jalur kanan, padahal itu tidak dibenarkan. Tapi kami yakin Tuhan bersama kami, menyertai keselematan kami, dan kami percaya pada supir kami karena Tuhan.

Ada banyak hal yang aku temui dalam perjalanan ini, mendengar cerita sang supir dan kondektur yang memiliki pengajaran.

"Motor ku dhisik ana loro, omah ning kono enek, ning kene duwe. Tapi saiki entek, ilang kabeh" Kata sang kondektur. 

"Yo iku oleh-olehe barang maling, ora ana sing suwe. Ora barokah" Argumen sang sopir.

Dari situ aku tahu, ternyata kehidupan mereka keras, dijalanan yang keras, kata kasar, kalimat sarkas sudah biasa. Aku tak melihat ada sakit hati dari wajah sang kondektur dengan ucapan sang sopir, lebih terkesan ada penyesalan disana.

Lagi perjalanan berlanjut, oh iya untuk perlombaan tadi, kami membiarkan si Sugeng Rahayu untuk lebih dulu. Karena hari sudah mulai terang, orang-orang sudah mulai mengular, jalanan ramai, hampir-hampir padat merayap. Sang sopir juga butuh makan Ia harus mengangkat penumpang sebanyak-banyaknya, ia juga berkata akan lebih hati-hati dan tidak ugal-ugalan lagi.

Ini menarik, saat di terminal Mojokerto, bus kami terpaksa diberhentikan, karena sang sopir buat ulah, buang sampah sembarangan. Lagi-lagi sopir kami yang beraksi. Tak tahu pasti, mungkin memang ia suka jika hidup yang lebih menantang.

Sopir kami dipanggil, yang kulihat dari balik kaca, Bapak Kepala Dishub Mojokerto, memarahinya. Si sopir itu hanya cengengesan, dan meminta maaf. Ia harus bertanggung jawab atas ulahnya, memungut sampahnya, dan membuangnya di tempat yang sudah disediakan.

Aku salut dengan Bapak Kepala Dishub itu, beliau sangat tegas, andai saja ada lebih banyak orang seperti beliau di negeri ini, pasti Indonesia ku akan lebih indah.

Permasalahan selesai, kami diijinkan untuk melanjutkan perjalanan. Disekitaran Sidoarjo, si sopir ini bertemu dengan isteri dari temanya yang sesama sopir.

"Mbak bojomu, Aku reti mau gendakan ning Nganjuk." Kata si sopir dengan tawanya. 

"Ben, aku kari ngenteni surat iki." Balas ibu-ibu yang dipanggilnya Mbak tadi.

"Ho oh Mbak wis ora usah suwe-suwe. Langsung ne wae."

"Iyo, iki kari ngenteni surate."

"Wong wedok apa iku kok kaya ngunu?" Kata si kondektur dari dalam Bus, namun suaranya tidak sampai luar.

"Wong wedok kok kaya ngunu." Katanya lagi. Si kondektur itu tidak habis pikir dengan si Mbak tadi. Membicarakan keburukan suaminya sendiri di tempat umum.

Lagi-lagi tingkah manusia membuat ku geleng-geleng. Akupun berpikiran sama dengan si kondektur. Meskipun si Mbak tadi sakit hati dan melupakan emosinya, tapi Aku juga tidak membenarkan perilaku si Mbak tadi.

Ada banyak hal yang Aku temui, semuanya memberikan pengajaran yang berbeda-beda. Ini yang tak pernah Aku pelajari saat di sekolah, tak banyak pelajaran attitude yang ku pelajari di sekolah selain dengan guru, sesama teman dan warga sekolah lainnya. Sekolah memberiku materi dan teori, tapi ada sisi berbeda yang realitanya lebih mengena. Sekolah menjelaskan ketidakfahamanku, tapi kehidupan memberikan pengertian yang harus ku mengerti dengan caraku sendiri.

Begitulah perjalanan ku dengan Mandala, melihat pertunjukan dari adanya kehidupan dari sisi yang berbeda. Dari balik jendela, dari sisi luar kaca. Dari dalam kata yang terdengar kasar, dengan pesan dibaliknya.

Semuanya kembali ke diri sendiri, memilih yang pantas untuk didengar, memilah yang tepat untuk dijadikan pengajaran. Filterisasi diri, tetap diperlukan. Karena manusia bagaikan spons yang mudah menyerap hal disekitarnya. 

Rahwana-Shinta

Layang untuk Shinta

Aku mengagungkan mu dalam pandangku
aku mendambamu dalam anganku
aku ingin memelukmu sepanjang waktuku
aku ingin menggenggam ragamu dalan nyata dunia

Keras lakumu, ku tak gentar
teguh jiwamu, tak kuhiraukan 
setiamu pada bajingan itu, bukan masalah
tapi, bisu lisanmu memmbunuhku

Shinta, izinkan aku mencintamu
meski aku tahu aku akan sakit sendiri
izinkan aku memujamu,
hingga aku tersungkur takberdaya.

Shinta, tahukah engakau.
aku sungguh mencintamu, 
tapi aku sadar 
aku tak kan mampu menggapai hatimu

Shinta, aku terima 
jika aku harus menjadi langit
yang selalu kau pandang dengan tatapan memuja
tapi kau tak pernah mengijikan aku untuk itu.

Aku tak tahu harus bagaimana, sungguh ini membuatku hilang arah

Shinta, 


Senin, 28 Oktober 2019

Pesan Di(a)wal



Angin yang sendu
Mengantarkan pesan 
Pesan rindu yang terpendam
Membuka mata batin untuk tergerak sejenak membacanya

Mata terkantuk-kantuk memaksa tuk membuka cahaya
Pada lampu pijar yang menenpel didinding
Apinya menjilat udara di sekitarnya
Baginya untuk tetap menyala

Ia bangunkan semestanya,
Ia bisikan, betapa indahnya mentari di ufuk
Ia lantunkan puja pujian
Ia pengaruhi dengan pangkat -dua puluh tujuh- derajat

Kembali, mata terkantuk, kepala tertekuk, tengkuk ke leher mambungkuk
Semua, dipaksanya terjaga, menyala bersama apinya
Ayat-ayat puja pujian semakin meninggi
Bergegaslah semuannya, menyibak kehangatan selimut dalam dinginnya udara subuh

Kau minta semua yang kau ingin, 
"Kami kabulkan"
Kau sebut semua yang membelenggu 
"Kami bebaskan"
Kau puji aku dengan keikhlasan 
"Kami tingkatkan"
Selamat pagi, silahkan kau lalui hari, begitu pesannya di awal waktu

Minggu, 20 Januari 2019

BUNDA


Bunda

 Aku tahu

Periuk selalu minta diisi

Walau hanya sebuah nasi

Tapi aku tak pernah rela Bunda begini

 

Bunda

Aku sadar 

Menangis saja tak cukup

Air mata tetaplah air mata

Yang tak mampu berubah menjadi

Lembar-lembar rupiah


MAHESWARI

Jika hewan diciptakan tak punya pilihan, tetapi manusia punya Jakarta, 18 Maret 2005  Langit pagi kota Jakarta memang tak pernah ramah, sera...