Tidak ada niatan menyusun kepingan pazel yang sudah tak utuh itu lagi. Semua sudah pecah, mereka membubarkan diri dari rangkaiannya, karena semesta tidak pernah berpihak dengnya. Kepingnya seperti debu di tus-tus piano tua, jari itu menari diatasnya diiringi melody kesedihan, siapa yang mendengarnya ingin segera berlari dan menutup pintu rapat-rapat, bersembunyi dibalik bantal untuk menangis sekerasnya.
*
Gadis itu mengakhiri permainannya, lagu terakir untuk malam ini. Exsport Little Glam Watch EE Blue yang melingkar ditanganya menunjukan angka sepuluh malam. Turun dari panggung disambut pelukan hangat dari sang Bunda.
"Harus terbiasa ya, kamu bisa kok sayang."
Kalimat sang ibu yang melihat tangan putrinya bergetar saat menyambutnya.
"Sudah malam, yuk pulang. Ayah sudah menunggu." Setelah beramah tamah dengan tuan rumah, segera mereka menuju ke parkiran, menghampiri sang Ayah.
"Lagunya bagus, Ayah senang mendengarnya." Komentar Ayah untuk putrinya.
Ayah pikir kata senang lebih tepat diucapkan untuk menggantikan terharu, pada lagu terakhirnya, karena dirinya tidak suka dikasihani.
Rimba mengucapkan terima kasih atas pujian Ayah, meski separuh sisinya merasa sedih, Rimba tetap merasa senang, dengan ini dirinya tidak sendiri, ada Ayah dan Bunda yang tidak pernah lelah mendukungnya.
*
June, 12, 2009.
Tidak seperti biasanya, langit tampak begitu cerah dengan nuansanya siap menyambut musim panas. Diminggu yang cerah, dalam beningnya air kolam, tampak awan yang menggantung disana sedang bercermin, memperbaiki penampilannya, adakah yang dirasa kurang atau berlebihan, ia tak ingin terlihat mengecewakan. Beberapa kali angin membantunya, sedikit memolesnya.
"Lihat kak, yang disana itu." Kata gadis manis pada teman yang duduk disampingnya, sedang menikmati lelahnya, setelah bersepeda.
"Gak ada yang bagus?" Tanyanya mengikuti arah pandang gadis manis pada langit, ada beberapa lembar awan tak berbentuk seperti serat arumanis.
"Iya, haha." Tawa gadis manis sebab rencana jailnya berhasil. Pikirannya mengatakan pemuda disampingnya ini tidak akan tinggal diam, gadis manis itu sudah megganggunya ditengah rasa lelahnya. Tanpa menunggu aba-aba dia segera berlari untuk menghindari hukumannya.
"Awas ya kamu. " Ancamnya pada gadis manis yang terdengar seperti candaan.
Mereka berlari memutari kolam itu, berputar-putar ditengah padang rumput hijau, langkahnya digiring tawa.
Gadis manis itu mengangkat tangan tanda menyerah, nafasnya tak cukup panjang untuk berlari lagi. Sama halnya dengan pemuda itu, ia juga mengatur nafasnya yang semakin pendek.
Ditengah aktivitasnya, pemuda itu menyadari sekelilingnya begitu indah, terlukis hijau dan biru langit tangan Tuhan memeluk mereka. Tak ingin melewatkan ini, pemuda itu mengeluarkan ponsel pintarnya.
"Mau apa kak?" Tanya gadis manis.
"Buat kenangan, bagus nih, yuk foto." Ajaknya mengarahkan kamera kedepan wajah mereka, bergaya senyum tulus.
Mendengar kata kenangan membuat gadis manis terdiam seketika. Tidak ingin jika ini sebatas kenangan, terlalu indah. Karena hobi pemuda itu fotografi sejenak dilupakannya gadis manis itu, dirinya asyik mengambil objec yang dirasa cantik, temasuk manusia disampingnya itu.
Rimba tersenyum melihat unggahan foto mereka di laman sosial media pemuda itu dan beberapa karya foto lainnya. Kenangan itu, perasaan itu, sudah menjadi keping-keping pecahan seburam kaca.
Semuanya nyata, pertanyaannya terjawab kini, kenangan itu yang menariknya kembali, perlahan butir bening menetes membasahi padang safana yang merah merona.
*
Dipermainkan karma, laku apa yang pernah dilakukanya dimasa lalu? Jelaskan pada angin yang berbisik lewat sela tirai jendela itu. Rimba beberapa kali menepuk dadanya mengusir sesak yang semakin memeluk hatinya, ingin sekali berdamai dengan dirinya sendiri.
Ditempat tergelap disisi ruangan ini semuanya tersimpan rapi, dalam kotak yang sekali saja dia melangkah akan kembali menariknya pada perasaan terlalu percaya diri pada kesalahan.
"Kakak pakai lagi? Bagaimana bisa?" Tanyanya penasaran melihat garis hitam disekeliling mata itu, yang membuatnya terperosok dalam sekali tatap.
Yang ditanyai hanya diam, memberikan dua kemungkinan, yang menjadikannya harus menjawab pertanyaannya sendiri.
"Mengeluh?" Tanya pemuda itu saat Rimba melepaskan nafasnya berat. Rimba menggeleng dan tersenyum manis, hanya sekali.
"Apa kakak, nggak mau memyerah?" Tanyanya hati-hati.
Menyerah sekarang? Menurut Rimba itu lebih baik dilakukan, sebelum semakin larut, sebelum semakin berlanjut. Rimba tidak memberi pilihan, tidak juga memberi saran, itu keputusan yang menyamar dalam perintah.
Lelah, yang memgambarkan Rimba dalam raut kanvasnya. Yang diperjuangkan sedang memperjuangkan yang lainnya. Haruskah dia mundur setelah sejauh ini, bagaimana jika waktu menghianatinya, siapkah dirinya dengan kekecewaan?
"Terlalu rumit, aku lepas kontrol. Maaf."
Remasan pada jarinya semakin kuat, mendengar kalimat pemuda itu.
"Sebentar lagi magrib, aku antar."
Ada sedikit was-was, pemuda itu tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana jika mereka papasan dengan malaikat maut, saat mereka sedang luput. Entahlah, Rimba sudah percaya pada Tuhan, termasuk kembalinya pemuda di depannya ini.
Sangat, Rimba sangat menyayanginya. Pemuda yang lebih tua satu tahun darinya, juga kakak kelas disekolahnya. Yang membuatnya terperosok sekaligus melayang dari tatapanya yang hitam, dalam, dan memenangkan.
Setiap malam dirinya tak lupa untuk meminta pada Tuhan, agar menyelamatkan mereka dari api neraka, untuk lebih dulu menyelamatkan "kakaknya" ini dari lingkaran setan, barang haram yang dapat menghancurkan mereka dan tak butuh semalam.
Lingkaran masalah yang rekat dengan remaja, salah pergaulan, bullying, insecure, menjadikan pemuda tampan nan menawan dengan latar belakang keluarga terpandang, melarikan diri pada barang haram narkoba.
Sudah satu tahun terakhir dirinya aktif mengonsumsi ekstasi, sebelum bertemu dengan Rimba yang perlahan membawanya kembali. Support system terbaik selain kedua orang tuanya. Sukarela menemaninya rehabilitasi setiap minggu.
Dan seperti pernyataannya, dirinya kembali goyah, tepat dua minggu yang lalu. Rimba pun tak tahu apa sebabnya, merasa telah kecolongan dengan ini. Begitulah kiranya yang pertama sulit dilupakan, tapi yang kedua? Pasti lebih sulit kembali. Rimba bertekad ini tak boleh sia-sia.
"Besok kita mulai lagi ya kak. Aku temenin"
Pemuda itu tersenyum mengangguk, merasa bersyukur masih ada yang perhatian dengannya.
"Aku percaya, lebih. Karena aku yakin kamu, natural. Hati-hati, jangan menyimpan terlalu dalam seseorang dalam hatimu. Kasihan dia, nanti tersesat. Aku pulang ya."
Setelah mendapat persetujuan dari gadis manis, pemuda itu berlalu bersama bayangannya.
*
July, 06, 2009.
Rimba menunggu hari ini sejak semalam, sampai bangun lebih awal untuk membayar janji ke pemuda itu. Lima belas menit lalu dirinya sudah mengirim pesan, tapi belum dibalas juga, hampir bosan Rimba menunggu kali ini, karena sebelumnya tidak pernah.
Ayah datang dari beranda rumah, mengangsurkan radar kota pagi ini. Rimba menerimanya dan tidak percaya membaca headline yang tertulis. Dia semakin menegaskan penglihatannya ke bagian body, untuk memastikan kebenarannya.
Pulang, pemuda itu benar-benar pulang ke keabadian. Rimba tak tahu apa yang harus dilakukannya, hanya bisa menangis tersedu sedan. Pemuda itu, yang hari ini memiliki janji denganya, malah pergi sendiri, langsung ke Tuhanya.
Andai, andai pemuda itu tidak mengantarkanya pulang, mungkin ini tidak akan terjadi. Atau andai saja Rimba bisa sedikit menahannya, mungkin pemuda itu tidak akan berpapasan dengan malaikat maut yang bersembunyi pada truk bermuatan barang itu, sepagi ini.
Rimba merasa bersalah, rimba menyalahkan dirinya sendiri, yang jelas sudah menjadi takdir. Kekasihnya pergi tanpa dirinya. Ini bukan kepalsuan, pertemuanya dengan pemuda itu juga bukan kesalahan, semuanya sudah direncanakan, termasuk kepergianya yang tiba-tiba.
Yang tersisa hanya kenangan, manis atau pahit keduanya sama-sama menyakitkan.
Butuh waktu lama Rimba kembali menjadi dirinya sendiri, sedikit saja memorinya tersentil tentang pemuda itu, dia akan kembali berwisata ke masa lalunya, yang seharusnya dilupakan.
Beberapa lembar kertas yang tintanya mulai luntur, kembali dibacanya, surat kabar lama dari kekasihnya. Juga surat kabar lama kepergian kekasihnya. Semuanya tersimpan rapi sesuai urutanya. Dia harus sadar tidak ada yang sia-sia dari semua ini, sudah menjadi ketetapan. Apapun yang akan terjadi esok, akan terjadi. Hari ini harus dilalui, kemarin sudah dilewati.
Luka sekecil apapun itu sakit, menyembuhkanya butuh waktu. Memaafkan itu sulit, tapi berdaimai itu lebih sulit. Dia harus kembali mencintai dirinya sendiri. Bagaimanapun hasilnya, mencoba itu harus.