Aku keluar dengan sepotong roti lapis dengan selai kacang duduk di beranda menemani Dia memakai sepatunya di undakan anak tangga. Perhatianku tak pernah lepas dari setiap gerak geriknya.
"Ngapain lu simpul kuat banget?" penasaran saat melihatnya menarik kencang tali sepatunya.
"Lagi ngajarin kaki gue buat disiplin. " seperti itukah? bukannya itu sikap yanug muncul dari dorongan diri sendiri?
"Iyalah, ini perintah. Lu tahu gue harus berdiri lebih lama setelah ini. Harus rapi, pun saat gue harus ke kamar mandi." curhatnya panjang lebar dan membingungkan, aku seperti sedang belajar logika matematika mendengarnya.
"harus banget?" masih tidak yakin, bisa saja Dia melebihkan ceritanya agar terlihat dramatis.
"Harus. Gue kan anggota OSIS harus jadi contoh yang baik buat temen² gue, adik kelas gue. Ini peraturan, kata wajib itu lekat di badan gue."
"Lu tahu, tidur pun gue harus rapi dan bersepatu."
Gila, kata yang aku pikirkan saat mendengar hipotesis nya tentang OSIS dan Peraturannya. Apa dia nggak takut menjadi manusia yang kaku dan annoying?
"Nggak, kenapa? setiap manusia punya taste seni nya masing-masing, termasuk gue dan orang gila sekalipun."
Sumpah bener sarap ni anak, dosa gak ya gitu ke sodara sendiri?
Rotiku tinggal gigitan terakhir, dan aku tak melihat Dia mengunyah sarapannya atau meninggalkan bekasnya di meja makan.
"Lu nggak sarapan?" sebenernya ini bukan pertanyaan dalam arti sesungguhnya, lebih ke peringatan. Karena Ibu akan sangat cerewet melihat anaknya tak makan sarapannya. Beliau akan mengajak kami diskusi panjang waktu mengenai hal ini, melebihi durasi sambutan kepala sekolah. Imbasnya kami bisa saja terlambat masuk kelas.
Dia masih diam tak menjawab, atau menampilkan reaksi lainnya. "Gue bilangin Ibu."
Menurut Ibu, sarapan itu penting walaupun hanya segelas air putih dan sepotong biskuit kelapa. Karena harimu tergantung apa yang kamu makan pagi itu.
"Gue udah negosiasi ke Ibu, nih hasilnya." katanya sambil mengangkat kotak bekal kesayangan Ibu, Tupperware. Atau tepatnya Lovelyware.
"Mending sekarang lu nyapu yang bersih, biar calon suami lu gak berewokan." Apa hubungannya coba? "Kata si Mbah sih gitu." tambahnya.
"Gue berangkat deh, kebanyakan diskusi sama lu pagi ini bikin otak gue semakin noob." katanya lagi.
Anjay, kurang ajar banget nih bocah.
Tapi bener kata Dia, dipikir-pikir kita ini hidup dalam peraturan, bedanya ada yang mengikat dan ada yang membebaskan. Seperti bangun tidur, makan, minum, belajar, olah raga, membaca, sampai buang hajat. Semua itu kita yang mengaturnya tanpa sadar, kadang dilebihkan kadang dikurangi.
Dia mulai membiasakan dirinya dalam aturan dan tetap dengan batas-batasnya. Karena menurutnya hidup enak itu hidup yang teratur.
"sekarang lu pikir, burung yang lu lihat bebas itu sudahkah mereka merdeka? Nggak ada yang menjamin. Bisa aja di tengah jalan saat terbang ke barat, dia bertemu dengan elang yang sedang kelaparan."
Jadi, belum tentu saat kita memilih untuk hidup bebas kita akan aman dan damai. Dan coba cari tahu lagi, apa sebenarnya yang dicari dalam hidup itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar