Senin, 28 Oktober 2019
Pesan Di(a)wal
Angin yang sendu
Mengantarkan pesan
Pesan rindu yang terpendam
Membuka mata batin untuk tergerak sejenak membacanya
Mata terkantuk-kantuk memaksa tuk membuka cahaya
Pada lampu pijar yang menenpel didinding
Apinya menjilat udara di sekitarnya
Baginya untuk tetap menyala
Ia bangunkan semestanya,
Ia bisikan, betapa indahnya mentari di ufuk
Ia lantunkan puja pujian
Ia pengaruhi dengan pangkat -dua puluh tujuh- derajat
Kembali, mata terkantuk, kepala tertekuk, tengkuk ke leher mambungkuk
Semua, dipaksanya terjaga, menyala bersama apinya
Ayat-ayat puja pujian semakin meninggi
Bergegaslah semuannya, menyibak kehangatan selimut dalam dinginnya udara subuh
Kau minta semua yang kau ingin,
"Kami kabulkan"
Kau sebut semua yang membelenggu
"Kami bebaskan"
Kau puji aku dengan keikhlasan
"Kami tingkatkan"
Selamat pagi, silahkan kau lalui hari, begitu pesannya di awal waktu
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MAHESWARI
Jika hewan diciptakan tak punya pilihan, tetapi manusia punya Jakarta, 18 Maret 2005 Langit pagi kota Jakarta memang tak pernah ramah, sera...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar