Tak ada kata baik dari perpisahan, seperti berpisahnya mereka karena sebelumnya juga tidak baik. Bertemupun tidak baik, saat gadis itu melihatnya di persimpangan lampu merah. Langit sore yang cerah, di depan pasar yang mulai membubarkan diri, tukang becak berjajar rapi. Berharap satu, dua dari mereka membutuhkan jasanya.
Dijalan yang ramai karena sekolah sudah pulang, gadis itu menangkap sorot mata yang pernah dikenalnya, tepat di belakang rambu marka jalan. Langkahnya lurus sampai ke sebrang, tatapanya berlari ke belakang.
Sampai, lalu lintas kembali hijau. Motor matic itu bersama pengendaranya berlalu. Meninggalkan luka pada gadis mata kopi itu. Kali pertama menatapnya lagi, dan terakhir untuk setelahnya tidak bertemu.
Gadis mata kopi yang terlalu menolak kehadirannya. Saat duduk dibangku menengah atas, kedua pemuda itu dipersatukan oleh Bahasa Indonesia. Tepatnya tugas bahasa Indonesia membedah novel, karena bukan pilihannya, gadis mata kopi mendatangi gurunya. Maksud bertanya mereka disatu kelompkan.
"Ibu minta tolong kamu bimbing dia untuk paham ya. Kamu bisa kan." Begitulah jawaban yang didapat gadis mata kopi.
Karena sejak pertama gadis mata kopi tahu laki-laki jakung itu suka melanggar, dan perusuh. Laki-laki jakung dan genk bad boynya terkenal seantero sekolah dari semut merah yang berbaris di dinding sampai mbak baju putih rambut panjang di belakang Lab Ipa.
Gadis mata kopi tak boleh egois, apapun ini demi nilainya dan nilai teman sekelompoknya termasuk laki-laki jakung. Untungnya tak begitu sulit berkomunikasi dengan laki-laki jakung, beberapa kali juga ia ikut menyumbangkan pemikirannya saat diskusi.
Susahnya Ia belum bisa menjadi siswa yang rajin, gadis mata kopi harus lebih bersabar untuk, mengingatkanya, menyemangatinya, dan usaha yang dapat dilakukanya agar nilainya lekas cair.
Daun musin semi gugur tersapu angin, dijalan beraspal dipinggir bahu jalan. Gadis mata kopi melihat arloji hitam melingkar ditangannya, pada waktu yang mengikat keduanya menjadikanya dekat. Sebelumnya membenci, hingga terbiasa berteman, sekarang keduanya berada dalam keadaan nyaman.
Watak itu mutlak, tak banyak yang berubah dari laki-laki jakung, sedikit lebih bertanggung jawab ke dirinya sendiri, dan tugasnya, menambah satu nilai kelakuan baik. Tak ada salahnya mencoba menjadi siswa yang teladan, dan tidak selamanya peraturan diciptakan untuk dilanggar.
Bad boy itu menarik, gadis mata kopi bukanlah salah satu penggemar bad boy, sebisa mungkin menjaga jarak, untuk terhindar dari masalah. Tapi ayah dan ibu, juga guru mengajarkannya untuk tidak pilih-pilih teman.
"Anggap saja kamu sedang membantunya menjadi baik" Komentar dari ibunya.
"Ingat, jangan memaksakan perubahan" Pesannya lagi pada putrinya.
Pun dengan kenyamanan, dia bisa memlih dengan siapa dirinya berteman, tapi nyaman tidak bisa dipaksakan, itu terjadi begitu saja, senatural mungkin.
Perhatian kecil dari gadis mata kopi yang menurutnya berdasarkan tugas disambut baik oleh laki-laki jakung, tanpa alasan. Hal yang berulang dilakukan akan menjadi kebiasaan. Seperti tegur sapa, bercanda dikelas, diskusi, bercerita panjang kata, menanyakan kabar, mengingatkan makan, hingga ke bagian paling kecil, mengucapkan selamat malam.
Sesaat mereka melupakan kata asing, ketika bersatu menjadi bising. Mereka berteman, diantara keempat yang lainnya, keduanya tidak murni hanya berteman, dari lempar sahut perhatian keduanya saling meletakan perasaan.
Awalnya hanya gadis mata kopi yang merasakan karena naluri alamiahnya bawa perasaan. Setelahnya laki-laki jakung juga merasakannya, mudah terbaca oleh yang lainnya. Dan mereka masih diam tanpa pengungkapan.
Yang pertama merasa bukanlah yang tersadar lebih dulu. Laki-laki jakungnya menyukai gadis lain. Cewek berponi dari kelas sebelah, mereka sering bertukar pesan, beberapa kali makan bakso bareng di belakang gadis mata kopi. Itu semua dilakukan diam-diam, dan rapi.
Dan satu waktu bom itu meledak dan tidak ada yang tahu siapa yang menyulutnya. Hari dimana gadis mata kopi menemui kenyataannya. Dengan senyum cerah gadis mata kopi pergi ke sekolah, disambutlah dia oleh teman perempuannya yang siap bercerita, mengabarkan bahwa semalam ada seorang laki-laki yang menyatakan perasaan kepadanya, gadis mata kopi ikut bahagia mendengarnya.
"Tapi aku tak langsung menjawab, aku bilang hari ini akan jawab. "
"Mengapa begitu? Memangnya siapa dia yang beruntung itu? " Tanya gadis mata kopi dalam rasa penasarannya.
Perempuan itu tersenyum mengangkat bahu dan membisikkan kata, ah bukan kata, itu nama. Nama seseorang yang sangat dikenalnya. Gadis mata kopi tak salah dengar, pengucapan perempuan itu bernar, susunan hurufnya benar, dan itu dibisikkan. Nama laki-laki jakung yang disukainya.
Bagai disambar petir di pagi hari, saat matahari saja masih cerah-cerahnya dilangit timur. Terkejut bukan main, gadis mata kopi sudah terlanjur bahagia mendengar kabar baik yang berarti kabar buruk untuk hatinya. Amarah ini harus ditahan, pikir gadis mata kopi.
Masih ada lagi, Guru biologi yang sedang mengajar siang itu, menangkap laki-laki jakung sedang memutar-mutar dua batang coklat.
"Untuk siapa ini? Untuk pacar kamu?" Tanya guru Biologi.
"Bukan Bu, i—itu untuk kakak saya." Jawabnya tampak bingung mencari alasan.
"Bohong Bu, itu buat Ningsih. Anak kelas sebelah." Kata Adimas teman nongkrong laki-laki jakung.
Mendengar itu satu kelas riuh menyoraki laki-laki jakung, yang menjadi tokoh utama di kelas siang itu. Sebenarnya berapa banyak siswi yang dekat dengannya, mengapa disetiap sudut sekolah ada?
Saat itu pulang sekolah, gadis mata kopi ingin mebuktikan ucapan Adimas. Dirinya pulang paling akhir, mendapati laki-laki jakung mengejar Ningsih di parkiran, dan setelahnya Adimas benar. Dari senyumnya yang dipaksakan, tak ada yang tahu hatinya merah darah, tanda sedang terluka.
Dari kepingan kenyataan itu gadis mata kopi menyimpulkan, laki-laki jakung memang tak menyukainya. Kesadarannya terlambat, dia kalah cepat, biasanya selalu mempersiapkan diri seperti sebelum ujian akhir semester. Tapi ini berbeda, dia salah letak, dia kalah telak dipermainkan oleh perasaannya sendiri.
Perlahan gadis mata kopi menjauh, memberi ruang diantara pertemanan mereka. Adimas yang menyadari itu mencoba bertanya halus padanya.
"Ngapain lo ngejauh dari kita? Apa karena dia? "
Gadis mata kopi seketika menjadi bisu. Tidak ada kata yang keluar dan tidak dapat bicara.
"Lo gak usah sembunyi dari gue, gue tahu kok. Lo suka kan sama dia."
Diam.
"Ini jujur lo harus tahu." Kata Adimas yang membuatnya menahan napas.
"Dia suka sama lo."
Gadis mata kopi melepaskan napas berat, ada kelegaan setelah mendengarnya, tapi semuanya sudah terlambat. Gadis mata kopi tak mendengarnya langsung dari laki-laki jakung, bisa saja itu hanya hiburan. Gadis mata kopi meninggalkan Adimas dengan kalimat yang ditelan udara.
"Dia selalu cerita tentang lo, saat bareng gue. Coba lo denger dulu. "
Sudah cukup, tak ada yang perlu didengar lagi, semuanya maya, seperti bayangan cermin cembung. Kesadarannya membuatnya menyalahkan diri sendiri.
Keputusannya membuat langkah semakin jauh termasuk menarik semua perhatiannya ke laki-laki jakung, kembali menjadi dua yang acuh dan asing.
Sampai musim dingin datang saat langit abu-abu menggantung, untuk kemudian rintik saling bersambut, mereka tetap asing. Tidak ada yang ingin menjelaskan juga mendengarkan.
Sebenarnya tak benar ada perpisahan diantara mereka karena sejatinya tak pernah dipertemukan, kemarin itu hanya ketidakesengajaan.
Kebenaranya masih mereka simpan sendiri, gadis mata kopi yang terus bertanya dimana seharusnya ia letakan perasaannya. Sampai laki-laki jakung mau menjelaskan kepalsuan tentang perasaan ke orang lain, karena rasa tidak pantas.
Dimana, dimana tempat yang pas untuk kita dan rasa ini? —Gadis mata kopi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar