Selasa, 09 Maret 2021

MAHESWARI

Jika hewan diciptakan tak punya pilihan, tetapi manusia punya



Jakarta, 18 Maret 2005 

Langit pagi kota Jakarta memang tak pernah ramah, seramah senyum tanggal tua Bu Likan CEO (Chief Executive Officer) warung tegal “Selera Rasa” tulus melayani, karena hutang dibawa mati jangan lupa bayar hutang sebelum mati. Begitulah kiranya tagline yang tertulis di banner depan wartegnya.

“nasi pakai telur satu, Buk.” Pesan pemuda tampan langganan Bu Likan, yang setiap makan minta tambah kuah sayur lodeh.

Tangan master Bu Likan dengan telaten mengambilkan pesanannya “kenapa pakai telur biasanya ikan?”

“biasa Buk, dompet lagi kopong, bisa kemari aja udah syukur.” Curhatan Ganda pagi ini, salah sendiri uang bulannannya habis buat main Dota2 di Rental PS Suka-suka Menik, buka suka-suka, main suka-suka, harga pun suka-suka, tergantung seberapa ganteng kamu.

“Alhamdulillah, mengerti bersyukur juga kamu.”

 Kata Bu Likan sambil menyerahkan sepiring nasi dengan satu telur ceplok dipinggir, sambal terasi dan sambal goreng tempe di sebelahnya, Oh.. jangan lupakan kuah sayur lodeh.

 “ Eh, jangan salah Bu, dulu waktu di MAN nilai Matematika saya KKM.”

 “ Nilai KKM aja bangga Da, Agama kamu gimana?”

 “Pas”

 “Pas KMM juga?”

 “Pas 6, seperti rukun Iman”

 Beberapa pelanggan Bu Likan yang lainnya cekikikan mendengar percakapan Ibu-anak itu. Meski bukan anak kandungnya, Bu Likan menyayangi Ganda melebihi Kapten Doreng kucing kesayangannya yang suka nyolong ikan asin. Wajar Bu Likan begitu sayangnya pada Ganda, karena ia dengan senang hati mempromosikan warteg Selera Rasa di akun Facebook nya yang jumlah pertemanannya nggak lebih dari 200 orang.

 “gimana pabrik?”

 “gak tahu Buk, setelah BBM naik, saya dengar bakalan ada PHK besar-besaran.”

Obrolan mereka akan menjadi berat, tampaknya. Ganda mempercepat menghabiskan sarpannya, sedangkan Bu Likan cepat-cepat menyiapkan pesanan pembelinya, untuk setelahnya dengan khidmad mendengarkan Breaking News dari Ganda.

Bu Likan duduk dibalik etalase warungnya, tangannya sibuk melipat lap putih yang berubah warna menjadi coklat karena sering bermain bersama minyak, kecap, dan kuah sayur lodeh.

“sekarang lagi panas, denger-denger seribu lebih bakal dicut.”

“bisa jadi kamu termasuk.”

Uhuk. Ganda tersedak teh manis yang sangat diidolakannya. “Ibuk do’anya nggak kira-kira, nih.”

“ya… Ibu kan cuma mengira-ira saja….” belum sempat menyelesaikan ucapannya Bu Likan sudah lebih dulu berdiri ada pembeli baru masuk “buk, nasi pake ayam satu.”

“gimana kalau jadi do’a terus di dengar Tuhan?”

“tambah apa lagi?”

“sudah, cukup” kata seseorang pembeli berseragam PNS.

Sambil menambahkan satu tempe mendoan goreng Bu Likan meneruskan kalimatnya, “Pabrik tempat kamu itu pabrik besar, nggak ada rugi mereka PHK seribu karyawannya, tinggal buka lowongan lagi mulai dari gaji yang kecil-kecil lagi, bukan begitu?”

Sambil menyelipkan uang sepuluh ribu dibawah piring Ganda menyahut “ibu pandangannya suka bener, saya berangkat dulu.” Pamit Ganda.

Mendengar kenyataan pahit itu akankah membuat Ganda kecewa? Tidak. Tidak semudah itu untuk merasa kecewa, penerimaan adalah hal paling ikhlas yang selalu dipelajarinya pahit dan manis sekalipun.

Saat sampai pintu keluar warteg Selera Rasa dirinya sempat bersimpangan dengan seorang gadis manis, tampilan necis, lipstick tipis tersenyum sekilas kearahnya.

“Pakai apa neng?”

“Pakai ayam aja Bu, sambalnya dipinggirin ya.”

“Duduk dulu neng.”

Sebelum benar-benar meninggalkan warteg Ganda sempat mendengarkan percakapan Bu Lian dan gadis itu, menyisakan pertanyaan yang hanya ingin ia tahu “kenapa semua orang lebih suka ayam?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAHESWARI

Jika hewan diciptakan tak punya pilihan, tetapi manusia punya Jakarta, 18 Maret 2005  Langit pagi kota Jakarta memang tak pernah ramah, sera...