Dinda sudah langganan dengan sang supir dan kondektur, merkipun demikian harga tiket tetap sama. Karena mereka juga perlu untuk makan.
Masih terlalu pagi, jalan kota juga masih sepi. Di belakang kami bus Sugeng Rahayu, jurusan Jogya-Surabaya menantang untuk balapan.
Penumpang juga masih sedikit, itu membuat sang sopir menerima tawaran tersebut. Ya, meskipun tanpa ada pernyataannya yang tersurat, tetapi gelagat dari sang sopir Sugeng Rahayu, menunjukkan dimulainnya pertandingan.
Lima penumpang yang semuanya cewek, aku dan ketiga temanku, juga seorang ibu-ibu yang duduk di belakang ku terus merapal do'a dan kalimat tauhid.
Beberapa kali aku dan Dinda tertawa melihat aksi sang sopir yang terus berusaha memenangkan pertandingan. Bus kami selalu ambil jalur kanan, padahal itu tidak dibenarkan. Tapi kami yakin Tuhan bersama kami, menyertai keselematan kami, dan kami percaya pada supir kami karena Tuhan.
Ada banyak hal yang aku temui dalam perjalanan ini, mendengar cerita sang supir dan kondektur yang memiliki pengajaran.
"Motor ku dhisik ana loro, omah ning kono enek, ning kene duwe. Tapi saiki entek, ilang kabeh" Kata sang kondektur.
"Yo iku oleh-olehe barang maling, ora ana sing suwe. Ora barokah" Argumen sang sopir.
Dari situ aku tahu, ternyata kehidupan mereka keras, dijalanan yang keras, kata kasar, kalimat sarkas sudah biasa. Aku tak melihat ada sakit hati dari wajah sang kondektur dengan ucapan sang sopir, lebih terkesan ada penyesalan disana.
Lagi perjalanan berlanjut, oh iya untuk perlombaan tadi, kami membiarkan si Sugeng Rahayu untuk lebih dulu. Karena hari sudah mulai terang, orang-orang sudah mulai mengular, jalanan ramai, hampir-hampir padat merayap. Sang sopir juga butuh makan Ia harus mengangkat penumpang sebanyak-banyaknya, ia juga berkata akan lebih hati-hati dan tidak ugal-ugalan lagi.
Ini menarik, saat di terminal Mojokerto, bus kami terpaksa diberhentikan, karena sang sopir buat ulah, buang sampah sembarangan. Lagi-lagi sopir kami yang beraksi. Tak tahu pasti, mungkin memang ia suka jika hidup yang lebih menantang.
Sopir kami dipanggil, yang kulihat dari balik kaca, Bapak Kepala Dishub Mojokerto, memarahinya. Si sopir itu hanya cengengesan, dan meminta maaf. Ia harus bertanggung jawab atas ulahnya, memungut sampahnya, dan membuangnya di tempat yang sudah disediakan.
Aku salut dengan Bapak Kepala Dishub itu, beliau sangat tegas, andai saja ada lebih banyak orang seperti beliau di negeri ini, pasti Indonesia ku akan lebih indah.
Permasalahan selesai, kami diijinkan untuk melanjutkan perjalanan. Disekitaran Sidoarjo, si sopir ini bertemu dengan isteri dari temanya yang sesama sopir.
"Mbak bojomu, Aku reti mau gendakan ning Nganjuk." Kata si sopir dengan tawanya.
"Ben, aku kari ngenteni surat iki." Balas ibu-ibu yang dipanggilnya Mbak tadi.
"Ho oh Mbak wis ora usah suwe-suwe. Langsung ne wae."
"Iyo, iki kari ngenteni surate."
"Wong wedok apa iku kok kaya ngunu?" Kata si kondektur dari dalam Bus, namun suaranya tidak sampai luar.
"Wong wedok kok kaya ngunu." Katanya lagi. Si kondektur itu tidak habis pikir dengan si Mbak tadi. Membicarakan keburukan suaminya sendiri di tempat umum.
Lagi-lagi tingkah manusia membuat ku geleng-geleng. Akupun berpikiran sama dengan si kondektur. Meskipun si Mbak tadi sakit hati dan melupakan emosinya, tapi Aku juga tidak membenarkan perilaku si Mbak tadi.
Ada banyak hal yang Aku temui, semuanya memberikan pengajaran yang berbeda-beda. Ini yang tak pernah Aku pelajari saat di sekolah, tak banyak pelajaran attitude yang ku pelajari di sekolah selain dengan guru, sesama teman dan warga sekolah lainnya. Sekolah memberiku materi dan teori, tapi ada sisi berbeda yang realitanya lebih mengena. Sekolah menjelaskan ketidakfahamanku, tapi kehidupan memberikan pengertian yang harus ku mengerti dengan caraku sendiri.
Begitulah perjalanan ku dengan Mandala, melihat pertunjukan dari adanya kehidupan dari sisi yang berbeda. Dari balik jendela, dari sisi luar kaca. Dari dalam kata yang terdengar kasar, dengan pesan dibaliknya.
Semuanya kembali ke diri sendiri, memilih yang pantas untuk didengar, memilah yang tepat untuk dijadikan pengajaran. Filterisasi diri, tetap diperlukan. Karena manusia bagaikan spons yang mudah menyerap hal disekitarnya.